Dari Kutuk Menjadi Berkat
Ditulis pada: 11 Juni 2010 | oleh: Budi Yuwono | Diarsip dalam: Rejeki dan Keuangan | Tag: keberuntungan, kelimpahan, keterikatan, materi | Tak ada komentar »Sebenarnya apa yang bisa diperoleh secara nyata dari belajar SQ? Sebagian orang beranggapan belajar SQ hanyalah akan mendapatkan pencerahan jiwa dan memperbaiki motivasi hidup. Saya tidak menyangkal anggapan tersebut, tetapi tidak juga menyetujuinya 100 persen. Karena SQ pun bisa dipakai untuk menumbuhkan dan menciptakan kelimpahan materi. Bagaimana caranya?
Sepuluh tahun lalu (sebelum kenal SQ) saya ditawari sebidang tanah di daerah Cikunir. Saya memang mendengar lokasi di dekatnya kelak akan dibangun jalan tol. Dalam pikiran saya kala itu, dengan membeli tanah tersebut, saya akan mendapat keuntungan berlipat-lipat karena otomotis harga tanah akan naik dengan adanya akses jalan tol.
Beberapa tahun kemudian, rencana pembangunan jalan tol itu mulai direalisasikan. Namun apa yang saya impikan sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan. Faktanya, tanah yang saya beli itu justru hampir seluruhnya masuk dalam lokasi proyek jalan tol, dan bukan berada di pinggir area tol seperti yang dikira. Artinya saya tidak akan bisa memakai tanah itu untuk investasi apalagi untuk membangun properti.
Pada proses pembebasan tanah, terjadi tarik-ulur yang alot antara warga yang tanahnya terkena pembebasan dan Jasa Marga selaku pemegang proyek. Berkali-kali warga mengadakan unjuk rasa agar mendapatkan ganti rugi yang layak. Mereka juga mengajak saya untuk bergabung mengikuti unjuk rasa. Setelah kenal SQ saya memang tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu, tak pernah menanggapi. Yang ingin saya lakukan adalah bekerja dengan benar. Saya sadar dengan pikiran saya yang terpecah antara pekerjaan di kantor dan hasrat mencari keuntungan pribadi berarti saya tidak setia kepada “bos” saya yang sesungguhnya yaitu Tuhan. Sebelumnya saya memang sering menganggap enteng pekerjaan saya karena merasa sudah ada manajer yang menangani pekerjaan-pekerjaan di kantor. Pendek kata, SQ saya sangat percaya kalau saya setia kepada Tuhan maka kutukpun akan bisa diubah menjadi berkat.
Akhirnya warga yang mengadakan unjuk rasa mendapat ganti rugi tanah sebesar Rp 150 ribu per meter persegi. Perkiraan saya, kalaupun Jasa Marga bersedia memenuhi tuntutan warga lainnya, paling-paling nilai ganti rugi yang akan diterima tak akan lebih tinggi dari Rp 175 ribu per meter persegi.
Suatu hari, saya menerima telepon dari petugas Jasa Marga. Mereka menanyakan apakah benar tanah kami akan dilepas. Dia juga bertanya harga yang diminta.
”Bapak serius mau jual tanah?” tanya petugas itu.
”Ya kalau mau (saya lepas di harga) Rp 500 ribu,” jawab saya sekenanya.
Tanpa banyak bertanya lagi, percakapan itupun kami tutup. Percakapan yang semula tak saya tanggapi serius itu beberapa hari kemudian berujung pada keterkejutan. Salah satu manajer PT Jasa Marga meminta bertemu saya dan menyetujui ganti rugi tanah sebesar Rp 550 ribu per meter persegi !!. Jauh lebih tinggi dari harga plafon yang ditetapkan Jasa Marga terhadap tanah warga yang lain sebesar Rp 150 ribu. Dan akhirnya bapak manajer itu sendiri yang datang kekantor saya mengantar cek untuk pembayarannya, karena memang saya tidak mau meninggalkan pekerjaan saya.
Dalam kacamata awam, peristiwa tersebut adalah ketidakadilan. Tetapi dengan perspektif SQ, saya melihatnya sebagai Kasih Karunia Tuhan sebagai buah dari keikhlasan dan kesetiaan. Tuhan memberi karunia setelah saya melepaskan keterikatan terhadap dorongan untuk mendapatkan untung besar seperti niat saya saat awal membeli tanah dahulu, serta mensyukuri dan setia akan pekerjaan yang diberikan kepada saya. Singkatnya saya yang tadinya mendapatkan kutuk- karena tanah yang diharapkan menjadi lahan investasi tetapi belakangan terkena proyek jalan tol– kemudian diberikan karunia lebih dari yang dibayangkan setelah melepaskan diri dari keterikatan terhadap materi/harta. Inilah bukti janji Tuhan yang disebut dalam firman-Nya.(*)

Tulis Komentar