Mukjizat Berserah Diri
Ditulis pada: 24 Mei 2010 | oleh: Budi Yuwono | Diarsip dalam: Kesehatan | Tag: Kesehatan, kesembuhan | 1 komentar »Mudah bagi kita mengucapkan istilah berserah diri. Mudah pula kita mengucapkan kata ikhlas. Tetapi tahukah Anda bahwa dengan berserah diri dan ikhlas bisa menjadi cara meningkatkan kesehatan sekaligus menyembuhkan penyakit?
Anda barangkali percaya dan tak percaya tulisan ini. Ceritanya begini. Saya pernah punya seorang manajer di kantor saya. Orangnya keras dalam bersikap, perangainya kaku. Bahkan terhadap penyakit yang dideritanya pun ia bersikap keras. Dia mengidap kanker di lehernya yang membesar sehingga nampak benjolan di bawah pipinya. Karena sudah menahun, kanker itu menjalar dan menekan jalan makanan (kerongkongan). Akibatnya dia sulit bila berbicara dan suaranya terdengar berat dan tersengal-sengal.
Dengan kekerasan hatinya, bapak ini tetap berkeras untuk bekerja dan tetap berbicara seperti biasanya. Suatu ketika saat berobat ke poliklinik, dia bercerita kanker sebenarnya sudah hampir membuatnya tidak bisa menerima asupan makan lewat mulut. Bila tidak bisa lagi makan, dokter akan memasang selang di lehernya untuk jalan makan.
”Kalau saya tidak lawan penyakit saya dengan keras, saya sudah mati, Pak,” katanya saat itu.
Saat itu saya melihat kekerasan hatinya yang hanya bersandar pada upaya manusiawi menggunakan akal dan emosinya untuk menghadap masalah yang dialami. Saya katakan kepadanya agar berserah diri kepada Tuhan dan tidak lagi memaksakan diri untuk melawan penyakitnya.
”Jangan dilawan Pak, Tuhan itu maha kuasa maka otoritasnya tidak terbantahkan,” kata saya. Saya anjurkan kepadanya untuk bertobat dari cara-cara yang hanya mengedepankan rasio manusiawi. Rupanya bapak ini menuruti anjuran saya. Ajaibnya, semenjak itu dia bisa kembali makan lewat mulut. Kurang lebih setahun kemudian, bapak ini mengembuskan nafasnya yang terakhir. Kanker yang menahun tak lagi bisa ditangani dokter. Tetapi upaya mengatasi saluran makan dengan menggunakan selang di leher berhasil dibatalkannya.
Lain lagi yang dialami seorang bapak mantan kepala bagian di kantor saya. Ia juga punya watak yang keras dan kerap marah kepada anak buahnya. Sebenarnya sifatnya yang pemarah adalah bentuk dari tanggung jawabannya yang tinggi. Tetapi dampaknya bapak ini menjadi tidak disenangi anak buah.
Bapak ini mengidap sakit kanker paru-paru. Rupanya tanpa disadari sikapnya yang pemarah membuat penyakit paru-parunya menjadi lebih parah. Bahkan dia mengaku tidak bisa tidur karena sakit yang dideritanya. Sama seperti sebelumnya, saya juga anjurkan kepada bapak ini untuk lebih sabar dan berserah diri. Saya memintanya untuk mengurangi tensi emosionalnya dengan cara ikhlas dan mengakui kuasa Tuhan kepada makhluk-Nya. Sungguh luar biasa, keluhan tidak bisa tidur yang dialaminya bisa hilang setelah anjuran saya dia praktikkan. Dia pun bisa tidur dengan lelap dan tenang. Beberapa bulan kemudian, dia pun dipanggil Yang Maha Kuasa dalam kondisi yang tenang dan damai.
Bila kita simak kedua cerita di atas, ada kesamaan pada keduanya. Separah apapun penyakit yang diderita manusia, Tuhan selalu memberikan peluang untuk sembuh. Sikap berserah diri dan ikhlas pada kuasa Tuhan adalah pintu untuk menuju kesembuhan dan peningkatan daya tahan tubuh. Ini adalah bukti bahwa sikap berserah diri yang merupakan cerminan karakter SQ yang muncul dari otak God Spot kita mampu mengendalikan sel-sel tubuh dan DNA kita agar memperbaharui diri untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak atau mati. Dengan diterapkannya prinsip-prinsip cerdas spiritual seperti ikhlas dan berserah diri, akan membawa kedamaian dalam hati yang pada gilirannya membuat kerja otak menjadi lebih tenang dan mengantarkan seseorang yang kesakitan untuk tidur. Dalam kondisi tidur inilah sel-sel mengalami proses perbaikan dan penyembuhan diri.(*)

[...] This post was mentioned on Twitter by Budi Yuwono, Budi Yuwono. Budi Yuwono said: BudiYuwono.com : Mukjizat Berserah Diri http://bit.ly/dC9SOW [...]