Mengapa saya mensyiarkan SQ?

Ditulis pada: 18 Mei 2010 | oleh: Budi Yuwono | Diarsip dalam: Keluarga dan Perkawinan, Personal | Tag: | Tak ada komentar »

Mengapa saya menulis blog ini?

Mengapa saya perlu mensyiarkan SQ?

Mengapa disebut SQ Reformation?

Mengapa ini…mengapa itu?

Saya kerap mendapat pertanyaan-pertanyaan senada dengan yang tersebut di atas. Semuanya berawal dari kata ”mengapa”. Orang-orang di sekitar saya pun menanyakan hal tersebut, terlebih mereka sudah lama mengenal saya dan mengetahui saya tidak punya ’potongan’ sebagai orang yang jago berkomunikasi di depan orang banyak. Saya juga cenderung dikenal sebagai orang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Lantas mengapa?

Bila dirunut ke belakang, kejadiannya bermula tahun 2000 lalu. Saat itu saya mengalami kegelisaan dalam usia saya yang menginjak 47 tahun. Secara lahiriah orang memandang saya sebagai suami yang beruntung. Pada usia tersebut saya dikaruniai kecukupan materi, karir yang bagus, anak yang lucu dan cantik, dan istri yang setia. Tetapi saya merasakan ada kekurangan dalam diri saya. Sesuatu yang barangkali sepele bagi kebanyakan orang. Ternyata saya tidak bisa mengelola komunikasi yang baik dengan istri saya. Saya kesulitan untuk sekadar curhat dengan istri. Padahal dialah sosok yang setiap hari saya temui di rumah, selain anak, sopir dan pembantu.

Walhasil setiap menghadapi masalah, saya lebih banyak curhat kepada ibu saya di kampung meskipun hanya lewat telepon. Saya merasa damai bisa bercerita dengan ibu karena beliau selalu bisa menentramkan dan membesarkan hati anaknya. Lain halnya bisa saya curhat dengan istri. Yang saya dapati bukan kedamaian tetapi perasaan selalu dipersalahkan karena tidak mampu mengelola masalah yang saya hadapi. Walau ini akhirnya saya fahami sebagai didikan Tuhan agar saya ‘curhat’ hanya Kepada-Nya.

Hingga saya akhirnya mendapatkan kenalan orang ketiga yang bisa menjadi teman curhat saya. Hal ini tidak lama berlangsung karena suatu ketika istri saya tahu saya kerap bertelepon dengan dia. Meskipun istri tidak pernah mengetahui siapa orangnya, namun sejak itulah emosi istri saya meluap setiap hari. Selama satu bulan rumah tangga saya seperti dibakar api. Setiap hari ada saja alasan dari istri untuk marah.

Pada saat itulah saya merasakan keanehan dalam diri. Saya merasa semua energi saya seolah lumpuh. Tidak ada daya intelektual, emosional atau alasan pembenar apapun untuk menyanggah kemarahan istri. Saya hanya diam dan meminta maaf setiap kali dimarahi. Saya pun memilih tinggal di rumah dan tidak terbersit kemauan untuk keluar rumah. Lebih aneh lagi, keinginan untuk menelpon teman curhat tersebut hilang dengan sendirinya. Tidak ada perasaan kehilangan dan sejak itu pula tidak ada lagi kontak telepon antara saya dan dia.

Keanehan-keanehan itu membawa saya pada satu pertobatan total. Saya merasa mendapat petunjuk Tuhan bahwa selama ini saya telah keliru dalam mengelola rumah tangga saya. Saya mengandalkan emosi, rasio, dan kemampuan manusiawi saya semata. Saya selama ini jarang bersimpuh di pintu-Nya.

Sejak pertobatan itu, segalanya menjadi. Hubungan dengan istri saya membaik. Demikian pula dalam masalah-masalah pekerjaan. Saya menjadi lebih mudah memahami hakekat suatu peristiwa. Itulah saat di mana muncul perasaan suka cita yang luar biasa karena merasa amat dekat dengan Hadirat-Nya. Saya pun berikrar dalam diri, apapun akan saya lakukan asal bersama Tuhan.

Hal lain yang saya alami adalah rasa lapar dan haus akan firman Tuhan. Selama ini amat jarang saya memberi asupan terhadap kebutuhan spiritual saya. Rasa lapar itu menyebabkan muncul kerinduan setiap hari bila tidak mendengar firman-firman Tuhan, khotbah, atau pengajian. Saya menjadi lebih sering mendengar khotbah, dan untuk konfirmasi saya akan membuka kitab suci terkait hal-hal yang saya dengarkan dari khotbah tersebut.

Dari mendengar khotbah dan menerima kebenaran firman, saya pun mulai enjoy menjalani proses untuk menjadi manusia yang benar. Saya mulai mengerti bahwa tidak ada satupun peristiwa yang lepas dari Kuasa Tuhan. Hingga muncul kesimpulan dalam benak saya bahwasanya untuk memahami fenomena dan peristiwa yang dialami manusia, apapun wujudnya, adalah dengan mengerti Kehendak Tuhan. Inilah sejatinya inti dari kecerdasan spiritual atau SQ (spiritual quotient).

Pemahaman-pemahaman ini mengarahkan saya pada kesimpulan lain bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memberdayakan satu potensi dalam dirinya yaitu potensi spiritualitas. Inilah hal yang mendorong saya untuk menuliskan konsep kecerdasan spiritual. Ini pula yang mendorong saya untuk menyebarluaskan pemahaman yang benar tentang SQ. Selama ini saya melihat banyak manusia yang tidak memberdayakan potensi SQ-nya. Hanya sebagian kecil manusia yang memiliki pemahaman utuh dan selebihnya hanya setengah-setengah atau tidak menggunakannya sama sekali. Itulah mengapa pemahaman spiritual manusia perlu direformasi agar lebih mendahulukan kemampuan spiritual dibanding hanya mengandalkan IQ, PQ, atau EQ. (*)

Bagikan:
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Yahoo! Buzz
  • Live
  • Tumblr
  • Add to favorites
  • Yahoo! Bookmarks
  • email
  • PDF
  • Print
  • RSS


Tulis Komentar

  • Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

    Security Code: