Apakah SQ merupakan spiritualitas baru atau cabang dari agama tertentu?
Ditulis pada: 18 Mei 2010 | oleh: Budi Yuwono | Diarsip dalam: Tak Berkategori | Tag: agama, religiusitas, spiritualitas | 1 komentar »Untuk judul di atas, jawabannya hanya satu : TIDAK. Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual bukan disiarkan untuk menjadi agama baru atau memberi alternatif terhadap agama-agama yang sudah ada. SQ sama sekali bukan ajaran agama atau aliran keagamaan baru (baca: tarekat).
Kalau agama diibaratkan sebagai kendaraan, dan manusia sebagai pengemudinya, maka SQ adalah keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh pengemudi agar bisa menggunakan kendaraan tersebut untuk mencapai tujuan. Singkat kata, SQ dimaksudkan agar si pengemudi lebih piawai berkendara, lebih memahami maksud dari kaidah (rambu-rambu) agama, lebih mengerti peran dan potensi iman yang ada dalam dirinya, lebih dekat bergantung kepada Tuhan, dan tentu saja agar menjadi makhluk paripurna yang bisa menebar rahmat bagi sekelilingnya. Jadi apapun agama anda, potensi SQ anda bisa diperdayakan, ditingkatkan, dan dikembangkan. Tentu agar memberi manfaat bagi kehidupan Anda.
SQ adalah potensi anugrah Tuhan yang dimiliki setiap manusia sejak lahir berbarengan dengan potensi-potensi manusiawi lain yaitu PQ (physical quotient = kecerdasan ragawi), EQ (emotional quotient = kecerdasan emosi) dan IQ (intelectual quotient = kecerdasan intelektual). Sejak ruh ditiupkan ke janin di rahim seorang ibu, pada saat itulah manusia sudah memiliki potensi SQ yang diberikan Tuhan. Potensi itu akan dibawa terus dalam kehidupannya.
Namun seperti juga otot, bila potensi ini tidak dilatih dan diberdayakan, maka SQ pun tidak akan berkembang. SQ juga perlu asupan yang tepat agar tumbuh dan menjadi kokoh. Asupan SQ adalah firman-firman Tuhan yang tertulis dalam kitab suci agama-agama. Agama sebenarnya mengajak manusia agar menjadi cerdas SQ, menjadi mengerti tentang hakekat keberadaannya dan keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Sayangnya banyak manusia yang belajar agama kemudian berhenti pada pemahaman semata, atau sekadar pada tataran religiusitas tanpa mencoba menyentuh hakikat-hakikat hidup dan kehidupan. Hakikat bahwa keberadaannya hanyalah sebagai hamba Tuhan dan tidak bisa lepas dari kuasa Tuhan barang sedetikpun. Dengan kata lain tanpa mengenal hakikat Tuhan, hakikat manusia dan bagaimana potensi iman mampu memberdayakan dirinya, sebenarnya manusia tersebut sedang melupakan atau mengabaikan potensi SQ-nya.
Memang dalam praktiknya, pemahaman SQ yang saya tularkan hanya menukil pada ajaran-ajaran agama samawi yaitu Islam dan Kristen yang di dalamnya sudah termaksud ajaran-ajaran dari Perjanjian Lama atau Taurat. Saya tidak menafikan ajaran agama Budha dan Hindu, tetapi saya merasa karena saya adalah seorang muslim, sudah sepatutnya saya menggunakan sumber-sumber dari kitab suci Al Quran dan kitab-kitab suci yang tersebut di dalamnya yaitu Injil dan Taurat. Dan syukur alhamdulillah, setiap kali menyampaikan SQ kepada siapa pun dan dengan latar belakang agama apapun, saya tidak pernah mendapatkan penentangan dari mereka. Semua setuju dan mengangguk tentang perlunya pemberdayaan SQ dalam diri manusia. Karena hakikatnya manusia adalah makhluk spiritual, makhluk yang selalu tergantung dan tak bisa melepaskan diri dari Tuhan.(*)

Assalamu’alaikum Wr Wb
Mudah2an engkau di berkahi dan dirahmati ALLAH SWT. AMIN
Salam
Achmad Sofyan